Kutai Kartanegara – Desa Loa Duri Ilir di Kecamatan Loa Janan tampil sebagai pelopor ketahanan pangan dengan mengembangkan kawasan pangan terintegrasi. Kepala Desa Loa Duri Ilir, H. Fakhri Arsyad, menjelaskan bahwa program ini sudah berjalan jauh sebelum adanya instruksi pemerintah pusat. Salah satu inovasi unggulannya adalah budidaya ayam petelur omega-3 probiotik yang kini memasuki tahun ketiga.
Budidaya ayam petelur tersebut tidak hanya menghasilkan produk telur berkualitas, tetapi juga mendorong terbentuknya pabrik pakan lokal. Desa membeli jagung dari petani untuk diolah menjadi pakan ayam, sementara batang jagung digunakan sebagai pakan kambing dan domba. Siklus produksi yang utuh ini menjadikan desa mandiri dalam penyediaan pakan dan bahan pangan.
Konsep terintegrasi ini membuat Loa Duri Ilir berhasil meraih posisi tiga besar nasional dalam lomba inovasi ketahanan pangan. Fakri mengatakan pencapaian ini membuktikan bahwa desa mampu bersaing di tingkat nasional. “Kami ingin menunjukkan bahwa desa bisa mandiri dan tidak hanya bergantung pada sektor tambang,” ujarnya.
Program pangan ini juga membuka lapangan kerja baru bagi pemuda desa. Namun, tantangan besar tetap ada. Banyak tenaga kerja justru berpindah ke sektor tambang karena iming-iming pendapatan lebih tinggi. Fakri menyebut ini menjadi tantangan terbesar dalam pembangunan sumber daya manusia di desa.
Meski menghadapi tantangan tersebut, pemerintah desa tetap berkomitmen melanjutkan program. Infrastruktur pendukung kawasan pangan terus dikembangkan untuk memperluas keterlibatan masyarakat. Fakri berharap semakin banyak warga yang terlibat agar program dapat berjalan lebih stabil dan berkelanjutan.
Menurutnya, ketahanan pangan adalah fondasi kemandirian desa. “Jika pangan kuat, masyarakat tidak mudah goyah meskipun harga naik atau pasar berubah. Itulah tujuan utama kami,” tutupnya. (Adv/DPMDKukar)





