Ketahanan Desa Diuji: Ponoragan Terendam, Kukar Tampil di Panggung Nasional

Oleh catatanrakyat.id

pada Rabu, 28 Mei 2025

Foto: Kondisi Banjir yang melanda Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara.

Catatanrakyat.id, TENGGARONG – Dua wajah berbeda tengah memperlihatkan dinamika pembangunan desa di Kutai Kartanegara (Kukar). Di satu sisi, Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, berjibaku menghadapi kerugian besar akibat banjir Sungai Mahakam yang menenggelamkan tambak-tambak ikan nila. Sementara di sisi lain, Kukar justru menorehkan prestasi dengan menjadi wakil Kalimantan Timur di ajang Festival Bangun Desa Indonesia 2025.

Kedua peristiwa ini menggambarkan dua realitas yang berjalan beriringan: ketahanan desa yang diuji oleh bencana, dan semangat membangun dari akar rumput yang mendapat pengakuan nasional. Di Ponoragan, sekitar 125 hektare tambak milik warga gagal panen. Produksi bibit nila yang selama ini menjadi kebanggaan desa lumpuh total. Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, menyebut kerugian tak hanya bersifat material, tetapi juga mengancam kepercayaan pasar. “Kami butuh bantuan indukan unggul agar produksi bisa jalan lagi,” ujarnya.

Sebagian besar warga Ponoragan menggantungkan hidup dari sektor tambak. Jika pemulihan lambat, ekonomi desa bisa terguncang hebat. Kondisi ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah tentang pentingnya strategi mitigasi dan adaptasi iklim untuk sektor perikanan.

Sementara itu, di tengah cobaan tersebut, kabar menggembirakan datang dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar. Kabupaten ini terpilih mewakili Kalimantan Timur di Festival Bangun Desa Indonesia 2025, ajang nasional yang menilai keberhasilan desa membangun kemandirian dan ketahanan pangan.

Kepala DPMD Kukar, Arianto, mengatakan bahwa keikutsertaan Kukar bukan sekadar simbol prestasi, melainkan bentuk tanggung jawab untuk menunjukkan daya tahan desa menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan. “Kami ingin menampilkan desa yang benar-benar tangguh dan mandiri,” katanya.

Ia menegaskan, pembangunan desa harus berbasis potensi lokal, termasuk penguatan sektor pangan dan perikanan. Desa seperti Ponoragan, lanjutnya, menjadi contoh nyata bagaimana ketahanan desa diuji di lapangan. “Kita belajar dari Ponoragan, bahwa pembangunan tidak hanya soal angka, tapi soal daya tahan dan semangat masyarakat,” ujarnya.

Dengan kisah kontras antara Ponoragan yang berjuang bangkit dan Kukar yang melangkah ke pentas nasional, semangat membangun dari pinggiran terasa semakin nyata. Di balik bencana dan prestasi, keduanya sama-sama menegaskan satu hal: kekuatan desa adalah fondasi utama bagi masa depan Kutai Kartanegara.

Bagikan: