Desa Loh Sumber di Kecamatan Loa Kulu kembali mencuri perhatian setelah brand lokal Menggeris berhasil merambah pasar internasional. Produk etnik yang dikembangkan pemuda desa ini merupakan hasil perjalanan riset yang berlangsung selama tiga tahun, mulai 2021 hingga 2024. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dari desa mampu bersaing di tingkat global.
Pendiri Menggeris, Iendy Zelviean Adhari, menjelaskan bahwa konsep produk yang diusung tidak hanya mengedepankan estetika. Ia memadukan nilai tradisional dengan inovasi modern untuk menghasilkan karya yang memiliki karakter kuat. “Menggeris ini berangkat dari filosofi personal sekaligus riset. Kami ingin menghadirkan produk etnik yang punya nilai tambah tinggi, berdaya saing, tetapi tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Salah satu ciri khas yang membuat Menggeris berbeda terletak pada penggunaan mesin automatic skeleton Seiko yang dipadukan bersama kayu keras Kompassia excelsa. Kombinasi tersebut menjadikan produk jam tangan Menggeris sebagai pionir pertama di dunia untuk kategori serupa. Inovasi ini lahir dari berbagai eksperimen yang dilakukan selama proses pengembangan.
Selain jam tangan kayu, Menggeris juga memperluas lini produk dengan kacamata kayu, strap Apple Watch, card holder, hingga softcase berbahan kayu. Seluruh produk dibuat secara handmade menggunakan banir pohon tumbang sehingga tetap menjaga aspek keberlanjutan lingkungan. “Kami klaim ini pertama di dunia, dan siap memberi garansi lima kali lipat bila ada yang bisa menunjukkan produk serupa,” tegas Iendy.
Produk Menggeris dipasarkan dengan harga mulai Rp500 ribu hingga Rp6 juta sesuai varian dan tingkat kerumitan desain. Meski berada di segmen premium, karya ini mendapat sambutan hangat pembeli dari Samarinda, Balikpapan, hingga mancanegara seperti Amerika, Asia, dan Eropa. Iendy mengatakan, “Kalau biasanya buah tangan itu mandau atau batik, sekarang ada pilihan lain yang tetap tradisional tapi modern. Produk ini bisa dipakai sehari-hari.”
Keberhasilan Menggeris dianggap sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya hilirisasi produk bernilai tambah dari berbagai daerah. Iendy menilai perkembangan ini membuktikan bahwa karya dari desa pun dapat naik kelas dan menjadi bagian dari rantai ekspor nasional. Upaya tersebut sekaligus memperkuat identitas lokal melalui produk kreatif.
Meski sudah menjangkau pasar global, Menggeris masih menghadapi beberapa hambatan, terutama terkait keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan produksi. Untuk memperkuat kapasitasnya, kini brand tersebut resmi menjadi binaan Dinas Koperasi dan UKM Kutai Kartanegara. “Yang terpenting, bagaimana usaha ini bisa terus berjalan, orang tetap membeli, dan produk kita bisa dikenal luas. Dari desa lah kita berangkat, dan ke dunia lah kita melangkah,” tutup Iendy.





