Catatanrakyat.id, Kutai Kartanegara – Desa Ponoragan, Loa Kulu, kini menapaki babak baru dalam dunia perikanan air tawar. Tidak hanya dikenal sebagai pemasok bibit ikan terbesar di Kalimantan Timur, desa ini tengah mengembangkan hilirisasi produk turunan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Budidaya ikan memang menjadi kegiatan utama masyarakat Ponoragan. Dari ribuan warga, sebagian besar mengelola kolam atau keramba. Produksi bibit ikan yang bisa mencapai puluhan juta ekor per tahun menjadikan Ponoragan sebagai salah satu sentra perikanan paling produktif di Kukar.
Namun pemerintah desa menyadari bahwa ketergantungan pada penjualan ikan segar memiliki risiko. Karena itu, warga mulai didorong memproduksi olahan ikan yang mampu memperpanjang umur simpan dan memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.
Produk olahan seperti abon ikan, keripik ikan, pempek, hingga pentol kini mulai dikembangkan UMKM setempat. Meski pemasarannya belum luas, hilirisasi ini dinilai sebagai tonggak penting dalam penguatan ekonomi daerah.
Salah satu terobosan yang menarik perhatian adalah produksi “baby fish”, olahan berbahan bibit ikan yang tidak lolos seleksi. Produk ini muncul dari kebutuhan memanfaatkan bibit yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Selain bernilai ekonomis, baby fish menjadi ciri khas Ponoragan yang belum dimiliki desa lain di Kaltim.
Ketika memperkenalkan produk ini di Jakarta, UMKM Ponoragan mendapat respons positif. Bahkan permintaan yang datang melebihi kapasitas produksi. Hal ini menunjukkan besarnya potensi pasar jika hilirisasi dikelola secara profesional.
Selain inovasi, pemerintah desa juga mendorong kemitraan dengan pihak luar untuk memperluas jaringan pemasaran. Ponoragan berharap suatu saat produk olahan ikan tidak hanya dikenal di tingkat regional, tetapi mampu bersaing secara nasional.
Dengan kombinasi produksi bibit yang kuat dan hilirisasi yang mulai berkembang, Ponoragan dinilai siap menjadi desa perikanan tangguh yang berdaya saing tinggi. (Adv/DPMDKukar)





