Panen Perdana Sistem LEISA di Bukit Biru Tunjukkan Lompatan Hasil

Oleh catatanrakyat.id

pada Rabu, 12 November 2025

Panen Demonstration Plot (Demplot) padi “LEISA” & Aplikasi Digital Farming

Catatanrakyat.id, Tenggarong — Panen perdana demplot padi dengan sistem LEISA berlangsung di Klaster Gapoktan Bukit Biru pada Jumat (12/9/2025). Dalam uji coba ini, teknologi digital farming digunakan sebagai metode utama pengelolaan lahan. Penerapan sistem tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan.

Produktivitas lahan meningkat dari sebelumnya 3,6 ton per hektare menjadi 6,27 ton per hektare. Kenaikan ini mencapai 74 persen setelah integrasi teknologi modern ke dalam proses budidaya. Para petani menilai hasil tersebut menjadi bukti nyata efektivitas pendekatan baru ini.

Metode demplot dipilih sebagai strategi edukasi agar petani dapat melihat langsung penerapan digital farming. Melalui lahan percontohan ini, teknologi seperti drone sprayer ditunjukkan dalam kondisi lapangan. Bank Indonesia ikut memberi dukungan karena program ini dianggap membuka era baru bagi pertanian daerah.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, turut menghadiri panen perdana tersebut. Ia menyampaikan kekagumannya atas capaian petani setempat. “Ini sangat luar biasa. Kalau seluruh lahan sawah bisa diproduktifkan seperti ini, swasembada pangan bukan mimpi,” ucapnya memberikan apresiasi.

Menurut Seno, potensi lahan sawah di Kutai Kartanegara mencapai 33 ribu hektare. Dari jumlah itu, sekitar 13 ribu hektare telah dioperasikan secara aktif oleh petani lokal. Ia menuturkan bahwa swasembada pangan Kaltim pada tahun 2026 bukan hal mustahil bila produktivitas enam ton per hektare bisa dicapai dan panen dilakukan tiga kali setahun.

Namun demikian, Seno mengingatkan bahwa teknologi tidak akan maksimal tanpa dukungan irigasi yang baik. Ia menegaskan bahwa infrastruktur air harus diperkuat agar hasil panen lebih stabil. “Teknologi saja tidak cukup. Irigasi yang stabil adalah kunci. Tanpa itu, panen tidak bisa maksimal,” ujarnya.

Digital farming dinilai tidak hanya meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu, tetapi juga mampu menjawab tantangan pangan dan iklim global. Seno menilai bahwa pendekatan ini akan menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan pertanian masa depan. Teknologi modern dianggap semakin relevan menghadapi perubahan ekosistem pertanian.

Ia berharap praktik pertanian berbasis digital dapat diperluas ke wilayah lain di Kalimantan Timur. Dengan adopsi yang lebih luas, modernisasi pertanian diyakini akan memperkuat ketahanan pangan regional. Selain itu, sistem ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi petani lokal dari sisi hasil dan efisiensi.

Bagikan: