Catatanrakyat.id, TENGGARONG – Meski dikenal memiliki potensi pertanian yang kuat, Desa Ponoragan juga menghadapi tantangan serius terkait ketergantungan pada pola pertanian tradisional. Kondisi ini membuat desa rentan terhadap fluktuasi musim, harga pasar, dan keterbatasan teknologi pendukung.
Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, mengakui bahwa sebagian besar petani masih menggunakan metode konvensional yang menyebabkan produktivitas belum optimal. Meski pemerintah desa terus mendorong pembinaan kelompok tani, adaptasi teknologi modern masih berjalan lambat.
Sementara itu, penguatan kelompok tani memang menjadi fokus pemerintah desa, namun beberapa kelompok masih kesulitan memperoleh alat mesin pertanian (alsintan) dan pendampingan intensif. Hal ini berdampak pada kemampuan produksi dan pengelolaan usaha tani.
Peran perempuan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) memang positif, tetapi tantangan pasar masih besar. Produk olahan hasil pertanian belum memiliki akses pemasaran yang stabil sehingga peluang ekspansi usaha belum maksimal.
Alokasi 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan dinilai sebagai langkah baik. Namun sejumlah pemerhati desa menilai penggunaan dana masih perlu diarahkan pada inovasi pertanian, seperti sistem irigasi modern, digitalisasi pertanian, dan pelatihan kewirausahaan.
Ketergantungan tinggi pada pertanian juga dinilai membuat desa kurang memiliki diversifikasi ekonomi. Faktor ini dapat mempengaruhi daya tahan ekonomi desa ketika terjadi gagal panen atau penurunan harga komoditas.
Meski demikian, Ponoragan dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang jika mampu menggabungkan nilai tradisional pertanian dengan inovasi modern. Pemerintah desa terus berupaya mengurangi kesenjangan tersebut melalui pelatihan dan sinergi lintas instansi. (Adv/DPMDKukar)





